Sejarah
Gagasan dari turunan keinginan dan cita-cita tokoh kharismatik sekaligus ulama besar Bima TGH. Abubakar Husain yang mengingingkan ada dua hal yang mempunyai kekuatan dan peranan yang sangat dahsyat dan menentukan yang apabila dipadukan akan menghasilkan perubahan positif yang luar biasa, yaitu al-Qur’an dan masyarakat yang sholeh. Itulah paradigma yang melatarbelakangi lahirnya Yayasan Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an-Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (Y-PTQ-STIQ) Kota Bima pada saat-saat sekarang, pada saat generasi Islam yang berpendidikan Tinggi yang memadukan dengan ilmu-ilmu al-Qur’an (baik membacanya, menghafalkan ayat-ayatnya dan keluhuran moral berdasarkan al-Qur’an, kedalaman spiritual dan kecerdasar intelektual berdasarkan al-Qur’an) sangat langka dan al-Qur’an hanya dilagukan dan di-mussabaqahkan-nya.
Sungguh fikiran itu amat genius dan brilian. Benih unggul itu disemai oleh Yayasan Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Bima atas prakarsa Pimpinan Pondok Pesantren Al-Husainy Kota Bima dan tokoh dan praktisi dalam mengembangkan ilmu-ilmu al-Qur’an Drs. H. Ramli Ahmad, M. AP dan Ketua Dewan Pembina H.M. Qurais H. Abidin untuk merealisasikan Visi dan Misinya dalam mengabdikan dirinya untuk membumikan al-Qur’an di Nusa Tenggara Barat Khususnya di Kota Bima dan Pulau Sumbawa.
STIQ didirikan dengan tujuan untuk menghasilkan ulama dan sarjana muslim yang kokoh imannya, indah akhlaknya, hafal al-Qur’an, menguasai ilmu-ilmu keislaman, khususnya ulumul Qur’an untuk didedikasikannya kepada agama, umat dan bangsa dalam rangka menghantarkan umat meraih izzul Islam.
Al-Qur’an yang ajarannya sangat agung dan mulia. Ajaran al-Qur’an itu perlu terus digali, dihayati, diamalkan, disebarluaskan dan diperjuangkan. Bukan saja bacaan dan nagham (lagu) nya yang dimusabaqahkan, tetapi lebih dari itu penghayatan dan pengamalanya yang justru harus terus kita musabaqahkan sebagai aplikasi perintah al-Qur’an agar tercapai keinginan masyarakat. Hal ini sebagaimana yang dicita-citakan oleh masyarakat Kota Bima dalam semboyangnya “Maghrib mengaji dan Kota Bima Berzakat”.
Tentunya dalam rangka mewujudkan masyarakat Kota Bima yang religius, hafal al-Qur’an, mampu memahami makna kandungan al-Qur’an harus diperkuat oleh lembaga yang memiliki semangat dalam memperjuangkan terealisasinya cita-cita mulia dalam membumikan al-Qur’an dalam setiap kehidupan masyarakat. Sungguh kehadiran STIQ Bima salah satu Perguruan Tinggi dalam mewarnai masyarakat dengan pengkajian dan pendalaman yang tinggi tentang ilmu al-Qur’an dan nilai-nilai ajaran al-Qur’an. Komitmen yang dibangun oleh STIQ Bima menjadikan semua civitas akademik mulai Pimpinan, Dosen, Tenaga Kependidikan dan mahasiswa harus menjadi penghafal al-Qur’an.
Kita semua perlu menjadari bahwa ajaran al-Qur’an yang agung itu hanya akan dibumikan dan dirasakan manfaatnya apabila ditengah-tengah masyarakat Nusa Tenggara Barat Khususnya di Bima telah banyak generasi Islam yang berperan aktif untuk memperjuangkannya. Untuk itulah STIQ Bima menjadikan al-Qur’an sebagai iconya.
Harapan tersebut terkabulkan dengan dikeluarkanya ijin penyelenggara Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Bima oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI pada tanggal 16 Mei Tahun 2014. Sekaligus awal memulai penyelenggaraan peleksanaan perkuliahan dengan satu Program Studi yaitu Ilmu al-Qur’an dan Tafsir.